Oleh : M.Mardhan
“Perubahan tak pernah menghampiri orang-orang yang hanya mengantungkan harapannya di atas langit seperti halnya kemerdekaan takkan terjadi karena sebuah permohonan belas kasihan, perubahan hanya akan terwujud dengan mulus ketika dipikirkan, diskusikan, direncanakan dan dikerjakan sebaik mungkin”. (Pamflet Merah-2016)
Polemik beruntun yang sedang berlangsung di Bombana antara pendukung HTL dengan pendukung KJM sepertinya kini semakin memanas (maklum kompornya 12 sumbu, Bro!). Dua sosok kandidat bupati yang paling sering namanya disebut-sebut itu, sepertinya saat ini tengah sama-sama dalam posisi "pasang kuda-kuda" bahkan boleh dikata masing-masing sudah angkat jurus, meski harus di akui jurusnya tak elok namun beragam: booming baliho, saling lempar manuver, bagi-bagi sembako, saling klaim hasil survey, hingga kunjugan door to door, dsb.
Debat panjang, kampanye ngawur, propaganda/black propaganda, hingga adegan 'saling ejek-ejekan' antara masing-masing pendukung dua kandidat itu kini semakin ramai, tak hanya di pasar, pangkalan ojek dan tongkrongan ngopi tetapi juga memenuhi media sosial. Karena debatnya sudah merembet sampai ke medsos/dumay, anak muda (termaksud mahasiswa) pun tak mau ketinggalan ambil bagian dalam hal ini (namanya juga anak muda). Meski keberadaanya sekedar menjadi penonton/peramai suasana dalam sebuah pesta elit yang disebut “demokrasi” pun tak mengurangi semangat anak muda dalam berlomba-lomba ikut ambil bagian dalam berebut percikan-percikan Pilkada, baik itu berupa duit, proyek maupun janji jabatan mendatang (JJM).
Bagi saya Anak muda memang penting berpolitik, karena hanya kaum muda yang dapat secara efektif mendorong transformasi social kea arah yang lebih baik, mengutip apa kata Pramoedya Ananta Toer (Sastrawan ternama juga pelaku sejarah): “Sejarah dunia adalah sejarah orang muda. Jika angkatan muda mati rasa, matilah semua bangsa” Banyak harapan yang dapat digantungkan pada kaum muda dan keyakinanku tak bergeser sedikitpun soal itu.
Kendati demikian, yang jadi pertanyaan; politik macam apakah yang harus dimainkan pemuda? Sebab hemat penulis dalam berpolitik Anak muda pun tetap saja harus dengan sikap hati-hati, karena berpolitik bukan sekedar adegan pesta dangdut-an, politik bukanlah makhluk loyal dan makanya dalam kamus apapun kita tidak akan pernah menemukan politik yang Independen. Politik senantiasa merepresentasikan kepentingan dari kelompok/induvidu tertentu, maka relasi antara kepentingan dan politik adalah satu kesatuan (inheren) yang tak terpisahkan satu sama lain. Oleh karena itu sikap kritis sangat diperlukan untuk mengkonfirmasi ada dibalik kepentingan siapa kita sebenarnya, rakyat luas (terutama rakyat miskin) ataukah hanya buat segelintir orang-orang rakus, sanak-saudara-keluarga, juga kroni-kroninya? Jika tidak hati-hati dan terorganisisr dalam mengambil keputusan akibatnya tak main-main, bukan hanya menyangkut “derita lima tahun” (non-job, non-proyek, dan non-non lainnya) tetapi juga menyangkut “nasib hidup” banyak orang selama lima tahun mendatang.
Dan jika sampai itu terjadi masalahnya bukan sekedar dosa-biasa tetapi sejatinya ini menyangkut kemanusian, karena mengorbankan nasib orang banyak untuk kepentingan pribadi/geng tertentu adalah kesalahan/kejahatan yang jauh lebih brengsek ketimbang ‘dosa’ dan jika anak muda ambil bagian dalam hal ini “memperparah keadaan untuk mempermapan diri sendiri” maka itu tak sekedar kelalaian juga kesalahan individual/personal tetapi ini adalah gambaran representative dari parasitisme generasi muda kontemporer yang harus menjadi bahan evaluasi kritis bagi gerakan muda kedepan. Tentu penulis sadar tak ber-hak melarang siapupun dalam “memilih” dan tulisan ini ditujukan memang bukan untuk membendung proses pemilihan tetapi tak lebih sekedar refleksi dan ajakan konsolidasi untuk pemuda (juga mahasiswa Bombana) tentang bagaimana kita menyikapi Pilkada mendatang, dipihak siapa kita berdiri, dampak positif apa yang dapat kita garansikan untuk masyarakat kedepannya dan langkah-langkah semacam apa yang mesti kita kerjakan?
Salam hormat untuk pemuda dan rakyat
*Penulis adalah Sekertaris Umum Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Sulawesi Tenggara-Yogyakarata (IPMIST-YK)
NB: Tulisan ini diambil langsung dari pemilik akun facebook https://www.facebook.com/notes/muhammad-mardhan/anak-muda-dibalik-huru-hara-menjelang-pilkada-bombana/932976110152886
Tidak ada komentar:
Posting Komentar