Oleh : M.Mardhan
Dalam histografi perjalanan bangsa kita (Baca: Bangsa Indonesia), setelah melewati berbagai macam benturan yang kompleks, serta serangkaian peristiwa-peristiwa krusial. Harus di akui bahwa peristiwa G30S (Gerakan 30 Sepetember/GESTAPU) atau lebih populer dikenal dengan G30S/PKI adalah salah satu BAB dari rangkaian sejarah penting tersebut, tak hanya bagi bangsa Indonesia namun juga memiliki signifikansi atas konstelasi perpolitikan Internasional kala itu, yakni Perang Dingin (pertama 1947-1970-an) yang berlangsung antara Blok Timur versus Blok Barat.
Bagi Indonesia sendiri, peristiwa G30S dapat dikatakan sebagai peristiwa amat menentukan atau “kunci sejarah” dalam melihat perkembangan Politik Indonesia modern. Meski demikian, tak banyak dari kita yang mengetahui urgensitas dan kebenaran tentang peristiwa tersebut. Seperti pernyataan Prof John Rossa yang pernah dimuat pada kolom wawancara Indoprogress berjudul “Prof John Rossa: Identitas Bangsa Indonesia Berubah Total Setelah 65” :
“Waktu saya belajar sejarah Asia Tenggara di universitas tahun 1990-an, saya tidak habis pikir, kok bisa ada peristiwa sebesar dan sehebat ini tapi pengetahuan kita tentangnya sedemikian kecil. Sebagai sejarahwan, saya lihat ada kebutuhan untuk investigasi yang lebih mendalam guna membongkar sejarah yang digelapkan oleh pembunuh-pembunuh itu. Sebagai manusia biasa yang peduli dengan prinsip-prinsip moral, saya benci dengan rezim Suharto (M.Zakki Husen, Wawancara indoprogress, 7 september 2012) ”
Karena itulah, tepat setelah 51 tahun terjadinya peristiwa menggemparkan tersebut. Setelah melewati masa-masa suram, dianggap tabu, bahkan haram untuk di diskusikan (32 tahun masa Orde Baru). Penulis merasa berkewajiban untuk mengangkat kembali perbincangan mengenai tema G30S.
Namun, sebelum membahas mengenai ini lebih jauh, maka perlu dipahami bahwa G30S bukanlah satu peristiwa independen yang tidak memiliki akar-hubungan dengan peristiwa-peristiwa sejarah sebelumnya. Karena itu, peristiwa tersebut harus dilihat secara dialektis. Harus dilihat sebagai—“akibat” atas peristiwa sejarah sebelumnya, sekaligus juga sebagai—“penyebab” atas peristwa sejarah selanjutnya (misalnya : peristiwa gestok, tranformasi politik dari fase orde lama ke orde baru,
perkembangan kapitalisme di indonesia,dsb).
Pertanyaannya kemudian adalah, jika memang G30S merupakan konsekuensi atas peristiwa-peristiwa sebelumnya. Maka peristiwa apa saja itu, dan bagaimana menjelaskan hal itu? Namun, sebelum menjelasakan semua itu, pertama-tama saya terlebih dulu akan memberi ulasan terkait apa yang dimaksud dengan G30S juga PKI.
Mengenal G30S dan PKI
Disini, saya sengaja memisahkan interpretasi mengenai G30S dan PKI. Bukan karena keduanya tidak memiliki relevansi, namun karena saya melihat bahwa kedua hal tersebut secara prinsipil memiliki definisi yang berbeda. Karena itulah, jika saja kita hendak mengajukan suatu pertanyaan. Maka, pertanyaan yang lebih tepat mestinya; “Apa itu G30S? Dan apa itu PKI?”Dengan mengajukan pertanyaan secara obyektif, maka kita dapat lebih mungkin mendapatkan jawaban yang obyektif.
Peristiwa G30S
Peristiwa G30S atau Gerakan 30 September yang juga dapat disingkat dengan akronim ‘Gestapu’ (Gerakan September Tiga Puluh) merupakan sebuah peristiwa berdarah yang bermula saat terjadi pembunuhan enam orang Jendral Pucuk Pimpinan Angkatan Darat tepat tanggal 30 september malam hari, hingga 1 oktober 1965. Mengenai siapa pelaku pembunuhan dalam kasus ini, sebenarnya hingga kini belum ada jawaban yang pasti terkait hal itu, termaksud dari sejarawan pro-orba yang senantiasi mengidentikkan PKI dengan G30S. Karena itulah, saya menolak labelisasi secara subyektif (streotipe) atas PKI sebagaimana pandangan meanstream yang seringkali melabeli PKI sebagai dalang atas peristiwa Gestapu, sehingga kemudian disebut G30S/PKI. Meski Rezim Soeharto mengklaim bahwa PKI lah yang bertanggung jawab atas G30S. Namun sepanjang masa kekuasaannya, ia sendiri tak pernah memberikan penjelasan obyektif terkait siapa sebenarnya dalang G30S, apakah memang benar-benar PKI? Kalau pun iya, maka harusnya dengan penjelasan; siapa saja yang terlibat langsung dalam pembunuhan dewan Jendral tersebut pada G30S? Apakah hanya pimpinan di tataran Central Comite PKI atau Ketua Politbiro, ataukah semua orang yang memiliki hubungan dengan PKI, yang jumlahnya lebih dari tiga juta orang itu? Tak ada penjelasan mengenai hal itu, dan hingga kini yang ada hanyalah generalisasi dan tuduhan sepihak terhadap PKI atas peristiwa berdarah tersebut.
Sekilas tentang PKI
PKI atau partai komunis indonesia (The Communist Party of Indonesia) merupakan sebuah organisasi politik beraliran Kiri-Marxis yang berdiri sejak tahun 1920. Pada tahun 1926-1927, PKI pernah melakukan pemberontakkan bersenjata terhadap kolonial Belanda (berujung pada pembunuhan dan pemenjaraan ribuan anggota-nya) dan Pada tahun 1948 (Akibat tidak sepaham dengan ‘Perjanjian Renvile’ yang dianggap menguntungkan Belanda) PKI juga pernah melakukan pemberontakan terhadap negara (Baca: Peristiwa Madiun 48), sehingga puluhan ribu anggotanya dipenjara dan Ketuanya, Mosso dieksekusi mati . Tahun 1950-an PKI kembali tampil dengan wajah yang lebih fresh, dibawah kepemimpinan D.N Aidit PKI berkembang pesat, hingga pada pada pemilihan umum tahun 1955 PKI berhasil menduduki peringkat ke-empat dalam perolehan suara 16% sehingga partai ini memperoleh 39 kursi . Bersama dengan ormas-ormasnya seperti SOSBI (Sentral organisasi buruh seluruh Indonesia), Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), BTI (Barisan Tani Indoneseia), Pemuda Rakyat (Organisasi Pemuda), LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) juga Himpunan Sarjana Indonesia (HSI) menjelang tahun 1960-an diperkirakan total jumlah anggota PKI pada 1960-65 berkisar sekitar dua puluh juta jiwa, jumlah itu sudah termaksud simpatisan di luar ormas-ormasnya. Akibat peristiwa G30S 1965, setelah terjadi huru-hara panjang yang berdarah-darah, maka pada tanggal 5 Juli 1996, PKI segeradibubarkan dan ajaran mengenai Marxisme-Komunisme-Leninisme resmi dilarang di seluruh wilayah Indonesia melalui ditetapkannya MPRS No. XXV/1966.

Dukumentasi Gestok: Soeharto dan beberapa tentara lainnya, sumber :http://jadiberita.com/917/sukarno-soeharto-dan-seluk-beluk-gerakan-1-oktober.html
Mengenai Latar Belakang Penyebab terjadinya G30S
Setidaknya dalam banyak kasus yang melatar belakangi atau menjadi penyebab atas meletusnya peristiwa G30S, bagi saya ada empat (4) hal paling relevan yang dapat jadi rujukan kita dalam menghipothesa latar belakang peristiwa G30S,berikut penjelasannya;
Pertama, Kedekatan Soekarno dengan PKI baik secara ideologis maupun secara organisasional dengan partainya PNI, terutama pada awal tahun 60-an (Mortimer,1974). Hal ini juga dapat kita lihat misalnya, dalam pidato-pidato Soekarno yang secara tegas menyatakan sikap anti-imperialisme dan anti-kolonialisme, sebagaimana halnya PKI dan seluruh kaum komunis diseluruh dunia yang mimiliki komitmen anti imperialisme. Akibatnya, banyak kelompok lain yang merasa Soekarno pilih kasih, terutama kelompok-kelompok islamis yang semakin lama semakin tersingkir seperti Partai Masyumi (1945-1960) dan ormas-ormasnya (dibubarkan Soekarno karena terindikasi terlibat dalam pemberontakan seperatis), juga PSI (Partai Sosialis Indonesia) yang beraliran sosial demokrat, dsb. Hal inilah yang kemudian menimbulkan kecemburuan (konflik ideologi) sekaligus ketakutan di kalangan ‘komunis-phobia’ berkaitan dengan isu bahwa partai komunis akan segera mengambil alih kekuasaan negara lewat aliansinya dengan Soekarno. Kedua, sejak dibentuknya lembaga militer bernama TRI (Tentara Republik Indonesia) pada 3 Juni 1946. Terjadi konflik yang menegangkan di internal militer, terutama antara mereka yang bekas Tentara Laskar (Poeple army), Eks KNIL dan Eks PETA. Dimana dalam perkembangan selanjutnya pasca program Re-ra (Rekonstroksi dan Rasionalisasi) 1948, terdapat indikasi yang kuat bahwa militer ingin lebih jauh terlibat dalam politik dan berkuasa. Hal ini lebih lanjut dapat kita lihat pada aksi percobaan kudeta yang dilancarkan pihak Militer di peristiwa 17 Oktober 1952 dipimpin oleh KSAD A.H Nasution juga pada 16 November 1956 .
Dasar ketiga, yang melatar belakangi peristiwa G30S adalah ketegangan dan konflik yang mewarnai iklim perpolitikan global. Hal ini terutama di tandai oleh Perang dingin yang sedang berkecamuk dan Perang Vietnam di Asia. Berhubungan dengan hal itu, terdapat ketakutan yang amat kental oleh Amerika Serikat (blok barat) jika Indonesia jatuh ke tangan PKI. Karena kedekatan Soekarno dengan PKI, berarti juga kedekatan Indonesia dengan Uni Soviet (blok timur). Dan itu berarti ancaman nyata bagi Amerika Serikat dalam memenagkan perang juga menancapkan penguruh-kekuatannya di mata dunia, terutama di wilayah Asia Tenggara, dan khususnya di Indonesia.
Hal keempat yang paling mungkin menjadi penyebab peristiwa G30S adalah Konfik PKI dengan borjuis nasional. Genjarnya PKI dalam memblajeti borjuis nasional (terutama diwilayah pedesaan) karena dianggap merugikan rakyat miskin (Baca: lintah darat), menjadi penyebab sentimen antipati terhadap PKI. Tulisan D.N Aidit (Ketua CC PKI) yang berjudul “Kaum Tani Mengganyang Setan-setan Desa” 1964 dapat menjadi rujukan kita untuk melihat bagaimana posisi politik PKI terhadap borjuis nasional di desa-desa saat itu. Aidit secara tegas menyerukan pentingnya melawan setan-setan desa, dimana diantara mereka adalah; (1) paratuan tanah jahat,(2) lintah darat, (3) tukang ijon, (4) kapitalis birokrat, (5) tengkulak jahat, (6) bandit desa. Dan juga: (7) penguasa jahat di desa .
Lalu, Apa yang terjadi pasca G30S? Dan apa dampaknya bagi Perkembangan Indonesia?
Sangat jelas, tenjadinya peristiwa berdarah tersebut, menjadi dalih bagi Soeharto untuk segera bertindak. Tepat tanggal 1 Oktober 1965 (Baca: GestoK) Soeharto yang saat itu berpangkat mayor jendral, mulai melancarkan serangan balik dengan menjadikan PKI sebagai kambing hitam atas pembunuhan dewan jendral pada G30S. Dibawah inisiatif Soeharto maka di mulailah Operasi perburuan, penangkapan, penculikan, pemerkosaan, hingga pembuhunan massal atas orang-orang yang dituding teridentifikasi sebagai anggota, keluarga bahkan simpatisan Partai berlambang Palu Arit tersebut. Pembantaian yang berlangsung dari tahun 1965 hingga 1966 itu, tercatat (dalam berbagai sumber) sebagai pembantaian terbesar sepanjang abad ke-20 (ket : ke-dua terbesar setelah Nazi di Jerman).
Setelah Soeharto berhasil menghancurkan PKI sampai ke akar-akarnya, melalui serangkaian aksi yang berdarah-darah itu. Dengan mudah akhirnya ia pun, menggeser posisi Soekarno dan berhasil menggatikannya sebagai Presiden Indonesia pada 12 maret 1967. Dari situlah lahir sebuah Rezim Baru, yang masa kekuasaannya disebut dengan istilah Orde Baru. Dibawah kekuasaan Rezim ini, melalui hubungannya dengan pihak asing, terutama Amerika Serikat, maka konstelasi politik indonesia berubah total dan Indonesia pun jatuh ke tangan imperialis.
Hal itu dapat kita lihat misalnya, dari respon mantan presiden AS- Richard Nixon- yang saat itu-dengan gembira mengatakan : “Dengan jumlah 100 juta penduduknya dan 300 mil busur pulau-pulai yang berisi persediaan sumber daya alam terkaya di daerah tersebut, Indonesia merupakan hadiah terbesar di Asia Tenggara”
Lebih lanjut, melalui UU no 1 Tahun 1967 tentang: Penanaman modal asing (UU PMA) . Maka secara resmi Rezim Orde Baru mulai membuka keran bagi masuknya modal asing di Indonesia, membuka konsesi-konsesi pertambangan, pembangunan berbasis utang luar negeri, praktek KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme), dsb. Singkatnya, Rezim ini dan juga kroni-kroninya, telah menjual Indonesia ke tangan Pihak Asing. Inilah awal bagi masuknya Kapitalisme modern di Indonesia.
Dengan menggunakan ABRI, GOLKAR dan BIROKRASI sebagai penyangga sekaligus senjata kekuasaannya, rezim ini pun berdiri kokoh dan awet selama 32 tahun. Dengan kepempimpinan gaya fasis, tanpa demokrasi, dan korupsi yang luar biasa, selama itu pula terus didengungkan epos kepahlawanan Sang Jendral Soeharto dan tentara atas perannya melawan (baca: membantai) PKI dan ratusan ribu, hingga jutaan Rakyat tak Berdosa. Selama 32 tahun lamanya, dongeng tentang G30S/PKI disebarluaskan hingga ke pelosok-pelosok wilayah NKRI. Melalui film-film horor tentang PKI (lihat. janur kuning 1979, serangan fajar 1981), buku sejarah di sekolah-sekolah, monumen nasional (monumen lubang buaya palsu), pemberitaan lewat radio, koran dan televisi, propaganda Orde Baru berhasil menanamkan doktrin anti komunisme di kalangan masyarakat. Akibat itu, hingga kini Rakyat Indonesia (terutama bagi kelompok-kelompok intoleran, anti demokrasi, dan belajar sejarah setengah-setengah) tak hanya menyimpan dendam “tak karuan” atas PKI, tetapi juga Streotipe sosial dan Labelisasi negatif atas apapun yang berhubungan dengan doktrin komunisme. Dan kerena itu, apapun alasannya, maka di mata mereka PKI tetap dinyatakan bersalah, dan Soeharto serta tentara diatas segala kekurangannya, tetaplah pahlawan Bangsa Indonesia yang senantiasa berjalan di bawah kebenaran.
Setelah Gestapu, keesokan harinya bangsa kita akan kembali memperingati tanggal 1 Oktober (peristiwa Gestok 1965), sebagai hari Kesaktian Pancasila. Dan Propaganda sesat tentang peran militer sebagai Super Hero dan PKI sebagai Penghianat akan kembali memenuhi ingatan kita. Mirip film sinetron yang penuh adegan sandiwara, yang sejak awal telah ditentukan-- siapa aktor protogonis --dan siapa yang jadi pemeran antagonis.
Seperti halnya setiap perjumpaan, pasti berujung pada perpisahan. Diakhir tulisan ini, saya ingin meminjam petuah yang pernah saya dengar dari seorang sahabat ; “Jika kita mengkonsumsi sejarah yang salah, maka bagaimana kita membangun masa depan yang cerah?”
Selama 50 lamanya, bangsa kita senantiasa merayakan peristiwa bersejarah GS30 juga Gestok dengan ekspresi penuh haru dan semangat nasionalisme yang berkobar-kobar.
Dan kini, menurut saya, sudah saatnya untuk diingatkan, bahwa peristiwa bersejarah itu bukanlah sebuah narasi yang patut dibangga-banggakan. Karena dibalik narasi itu, tertumpuk ratusan ribu hingga jutaan korban nyawa Rakyat kita, Rakyat Indonesia!
PUSTAKA
Coen Husain Pontoh, 2005, “Menentang Mitos Tentara Rakyat,”Resist Book, Yogyakarta.
Yoseph Tugio Taher, 2010, “Mengorek Abu Sejarah Hitam Indonesia,” Penerbit Ultimus,Bandung.
Jurnal Indoprogress edisi 1 september 2011, “Agama dan Negara, jejak silang kekerasan,” Penerbit Resist Book, Yogyakarta
Alfred D. Ticoalu, 2015, “Tidak Ada Penyiksaan Terhadap 6 Jendral: Wawancara dengan DR.Liaw Yan Siang,” Penerbit Indoprogress.
John Rossa, 2008, “Dalih Pembunuhan Massal : Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto,” Hasta Mitra, Jakarta.
Ruth T McVey ; “Kemunculan Komunisme Indonesia,” Komunitas Bambu 2010.
Harry A. Poeze,2011 ; “Madiun 1948: PKI Bergerak,” Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta.
AIDIT D.N, ; “Kaum Tani Mengganyang Setan-setan Desa,” Yayasan Pembaruan, Jakarta, 1964.
Busjarie Latief, 2014 : Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI (1920-1945), Penerbit Ultimus, Bandung
Penulis adalah : Mahasiswa Indonesia
NB-): Tulisan ini pernah dipublikasikan via facebook melalui akun pribadi dan sengaja dimuat ulang disini guna keperluan dokumentasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar